Coryza disebabkan oleh bakteri yang menyerang sistem respirasi ayam, tentunya hal ini sangat mengganggu kegiatan budidaya ayam, apalagi jika penanganannya tidak dilakukan dengan segera sehingga akan menginfeksi ayam lainnya. Mengancam peternakan ayam sepanjang tahun dan kasus penyakit yang biasa disebut snot ini dapat meningkat seiring dengan perubahan cuaca yang ekstrem. Program vaksinasi dan biosekuriti yang ketat termasuk memperhatikan ventilasi dan kelembapan kandang menjadi jalan untuk mencegah terjadinya kasus penyakit ini. Penurunan kondisi ayam dipengaruhi oleh fenomena pemanasan global yang kerap menimbulkan stres, selanjutnya akan mempengaruhi sistem imun, dan berakibat pada rentannya ayam terhadap infeksi penyakit termasuk coryza. Penyebab dan Dampak Coryza pada Ayam Petelur Infeksius coryza (snot) merupakan penyakit pernapasan bagian atas pada unggas, terutama ayam, yang bersifat akut. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri berbentuk batang yang pleomorfik tidak bergerak, bersifat gram negatif dan disebut Hemophilus gallinarum. Sifat alami bakteri ini tidak bisa hidup lama, dan akan mati dalam waktu 4-5 jam. Penularan penyakit dapat terjadi melalui kontak langsung dengan ayam sakit atau ayam karier, dapat pula terjadi secara tidak langsung melalui air minum, pakan, dan peralatan yang terkontaminasi. Infeksius coryza dapat menyerang semua umur, tetapi yang paling peka adalah ayam umur 18-23 minggu atau menjelang bertelur. Jika terinfeksi, kelompok ayam ini akan terlambat berproduksi. Pada ayam yang sedang bertelur, penurunan produksi dapat mencapai 10-40%, sedangkan pada ayam dara, pengafkiran (culling rate) dapat mencapai 20%. Gejala Klinis Gejala klinis dari penyakit ini ditandai dengan keluarnya eksudat dari hidung yang mula-mula berwarna kuning dan encer yang lama-kelamaan berubah menjadi kental dan bernanah dengan bau yang khas (mucopurulent). Bagian paruh di sekitar hidung tampak kotor atau berkerak oleh sisa pakan yang menempel pada eksudat. Sinus infraorbitalis membengkak, yang ditandai dengan pembengkakan sekitar mata dan muka. Terkadang terdengar suara ngorok dan ayam penderita agak sulit bernapas. Penurunan nafsu makan dan diare sering terjadi, sehingga pertumbuhan ayam menjadi terhambat. Penurunan Produksi Telur dan Pencegahan lewat Vaksinasi Infectious coryza di Indonesia menyerang berbagai jenis ayam, seperti ayam kampung, ayam ras petelur, dan ayam ras pedaging. Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil survei diketahui bahwa dalam 1 flok ayam petelur, angka kesakitan berkisar antara 30-40% dengan penurunan produksi telur antara 10-50%, dan perjalanan penyakit berkisar antara 1-3 minggu. Setelah ayam-ayam tersebut sembuh dari sakit, produksi telur akan kembali normal (recovery) dalam waktu ±1 bulan. Khusus untuk penyakit Infectious coryza, vaksinasi pada ayam petelur dan pembibitan dilakukan sebanyak 2-3 kali, yaitu pada umur 6-9 minggu dan ulangannya dilakukan pada umur 12-18 minggu. Vaksin yang dipakai adalah vaksin mati (killed) serotipe A, B dan C. Pengobatan Kasus Coryza Penyakit-penyakit yang memiliki gejala klinis seperti coryza adalah CRD, cholera unggas, avitaminosis A, IB dan penyakit alat pernapasan yang lain. Kemungkinan terjadi infeksi campuran harus diperhatikan jika gejala penyakit sifatnya menghambat, misalnya angka kematian meninggi dan penyakit berjalan sangat lama. Untuk pengobatan kasus coryza sendiri bisa menggunakan sulfonamide atau antibiotik yang direkomendasikan. Berbagai macam sulfonamide seperti sulfadimethoxine, sulfaquinoxaline, sulfamethazine efektif dalam pengobatan, akan tetapi sulfadimethoxine merupakan obat yang paling aman. Pengobatan melalui air minum akan memberikan respon yang cepat, sedang pemakaian antibiotik yang menguntungkan antara lain menggunakan tetracycline, erythromycin, spectinomycin dan tylosin, dimana pemakaiannya relatif aman dan efektif untuk unggas. Pencegahan yang Terbaik Cara yang paling baik untuk mencegah terjadinya penyakit ini dengan melaksanakan sanitasi dan manajemen peternakan yang baik, misalnya konstruksi kandang yang baik, kepadatan ayam yang sesuai dengan iklim setempat dan melakukan all in all out program. Diusahakan agar ayam untuk peremajaan dipelihara sendiri sejak kecil ditempat yang khusus, usahakan agar ayam dalam satu kelompok berumur sama. Timbulnya penyakit sering diakibatkan oleh tercampurnya ayam dari berbagai umur didalam satu kelompok. Bila suatu peternakan tertular, segera dilakukan pengobatan dan ayam yang mati harus dibakar pada tempat pembakaran yang khusus.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!