Ranah IV Hulu Tapan, 22 AGUSTUS 2023.
Pendampingan Pemeriksaan Bibit Pala Pala (Myristica fragrans Houtt) merupakan tumbuhan berupa pohon yang berasal dari kepulauan Banda dan Maluku. Pala dipanen bijinya, salut bijinya (arillus), dan daging buahnya. Dalam perdagangan, salut biji pala dinamakan fuli, atau dalam bahasa inngris disebut mace, dalam istilah farmasi disebut myristicae arillus. Daging buah pala dinamakan myristicae fructus cortex Bentuk pohon pala, berpenampilan indah tinggi 10 – 20 m, menjulang tinggi keatas dan kepinggir, mahkota pohonnya meruncing, berbentuk pyramida (kerucut), lonjong (silindris) danpermukaan laut (dpl). Namun,tanaman pala di daerah yang ketinggian tempatnya di atas 700 m dpl, dinilai tidak produktif (Rifany, 2016).
Tanaman pala memiliki khasiat dan manfaat yang luar biasa dalam kehidupan masyarakat kita. Biji buahnya yang memiliki manfaat sebagai bahan rempah masakan ternyata bisa digunakan sebagai masker yang berkhasiat untuk meremajakan dan menghaluskan permukaan kulit wajah, mengecilkan pori-posri serta mengurangi minyak pada kulit wajah. Namun tentu saja sebelum dapat digunakan sebgai masker perlu cara khsus untuk memprosesnya, dengan memanfaatkan isi biji buah pala yang masih muda kemudian dicampurkan dengan tepung beras atau tepung bengkoang. bisa dilakukan dengan cara tradisional atau menggunakan alat ekstrak. selain memanfaatkan bijinya daging buahnyapun dapat dibuat menjadi manisan dengan cita rasa yang unik. selain itu biji pala yang telah dikeringkan juga bernilai jual yang cukup menjanjikan.
Tanaman pala memiliki beberapa bagian. Dan bagian – bagian tanaman pala antara lain yaitu:(1). Batang: Tanaman Pala memiliki bentuk batang bulat dan tegak lurus dengan tinggi mencapai kurang lebih 20 meter. Pada batang pokok memiliki cabang primer yang sama bentuk dan tersusun rapih melingkari batang pokok. Kulit batang tebal dengan bagian luar berwarna abu-abu kelam dan bila ditoreh dengan pedang akan mengeluarkan banyak getah berwarna merah tua. Tanaman pala tumbuh tegak dengan mahkota pohon berbentuk pyramid. (2). Daun: Daun pala berbentuk bulat telur, pangkal dan pucuknya meruncing. Warna bagian bawah hijau kebiru- biruan, bagian atasnya hijau tua. (3). Bunga: Tanaman pala ada yang berbunga betina dan ada yang hanya berbunga jantan. Namun demikian, tanaman pala biasanya berkelamin dua (hermaphrodit). Artinya, bunga jantan dan bunga betina bisa terdapat dalam satu pohon. (4). Buah: Buah pala umumnya berbentuk bulat, lebar. Kulit buah icin, dan pada buah mudah berwarna hijau muda sedang bila buah sudah matang, maka kulit buah ada yang berwarna kuning pucat dan ada yang kulit hijau kekuningan. Kulit buah cukup banyak mengandung air. Buah pala mulai dari penyerbukan hingga masak petik memakan waktu hingga 9 bulan. (5). Biji dan Fuli: Pala termasuk tanaman berbiji tunggal, dan dilindungi oleh tempurung. Walaupun tidak tebal, biji pala cukup keras dipegang. Beberapa diantaranya berbentuk bulat telur dan lonjong. Jika sudah tua, warnanya berubah menjadi cokelat tua, kemudian permukaannya licin. Namun, jika masih muda permukaannya keriput, beralur dengan warna cokelat muda di bawahnya dan cokelat tua di bagian atasnya. Tempurung biji tumbuh dibungkus oleh fuli atau bunga pala, fuli dan bijinya memiliki banyak manfaat. Tanaman pala memerlukan iklim tropis yang panas dengan curah hujan yang tinggi tanpa adanya periode atau (masa) kering yang nyata. Di daerah yang tropis seperti di Indonesia, tanaman pala biasa beradaptasi luas terhadap lingkungan tumbuh. Misalnya, di pulau banda tanaman pala tumbuh pada ketinggian 500 m dari permukaan laut (dpl). Namun, tanaman pala di daerah yang ketinggian tempatnya di atas 700 m dpl dinilai tidak produktif. Secara umum tanaman pala tumbuh dan berproduksi dengan baik pada daerah dataran rendah sampai ketinggian 700 m dpl dengan suhu udara yang optimum berkisar antara 20°C-30°C, kelembaban antara 50% - 80%, curah hujan antara 2.000 mm – 3.500 mm / tahun, dan tempatnya terbuka 11 (mendapat cukup sinar matahari). Jumlah curah hujan yang baik bagi pertumbuhan dan produksi tanaman pala belum diketahui dengan pasti, tetapi dari pengalaman menunjukkan bahwa curah hujan 2.175 mm – 3.550 mm / tahun merupakan curah hujan yang baik bagi pertumbuhan tanaman pala. Makin tinggi curah hujan makin tinggi pula produksi yang dihasilkan. Kondisi tanah pada prinsipnya tanaman pala dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, Namun untuk memeperoleh pertumbuhan dan produksi yang optimum, tanaman pala menghendaki tanah yang ringan (gembur), bertekstur pasir sampai lempung, terutama tanah vulkanis atau tanah di sekitar gunung berapi dengan keadaan aerasi dan drainase yang baik, subur, dan mempunyai pH 5,5 – 7,0. Tanaman pala cocok ditanam pada tanah andosol, dan alluvial yang kaya bahan organik. Pada tanah miskin hara, tanaman pala masih dapat tumbuh apabila disertai pemupukan dan perawatan yang baik. Untuk mendukung pertumbuhan tanaman pala dengan baik, perlu dipilih tanah yang terhindar dari erosi, tanah mudah dikerjakan atau tidak terlalu keras, pengaturan tata air, dan udara dalam tanah yang baik, serta tersedia unsur hara yang cukup. Tanaman pala peka terhadap genangan air (becek), karena genangan air dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat dan mudah terserang penyakit busuk akar. Oleh karena itu tanaman pala akan cocok diusahakan pada areal yang topografinya tidak datar (bergelombang) dan drainasenya baik. Tanaman pala yang sudah berumur 4 – 5 tahun memerlukan sinar matahari yang banyak untuk dapat berproduksi. Penjarangan pohon pelindung harus diperhatikan untuk mencegah tanaman pala tumbuh tidak normal (memanjang ke 12 atas), dan untuk mencegah persaingan dalam pengambilan unsur hara antara pala dengan pohon pelindung. Bibit pala yang telah di bagikan pada kelompok tani sawah bako randah dilakukan pemeriksaan oleh tim gabungan dari disbuntahor,kabid perkebunan dan penyuluh di cek ulang supaya bibit sesuai standar untuk ditanam oleh kelompok tani sawah bako randah.
Dengan adanya pemeriksaan bantuan bibit pala oleh disbuntahor propinsi sumbar yang didampingi oleh kabid perkebunan dan penyuluh. Itrizal selaku Koordinator BPP dan PPL Suraida menyebutkan bahwa Bibit yang telah di dropping di Poktan sawah bako randah diharapkan telah sesuai dengan standarisasi yang dilakukan oleh disbuntahor sebelum bibit ditanam oleh poktan talang juwa.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!